Santri Harus Terus Mengaji

0
418
Ilustrasi (Muh. Irham)

Hari Santri di Pondok Pesantren Ash-Shalihin Gowa terus digelorakan dengan mendengarkan nasehat dari para guru setiap harinya kala pengajian berlangsung. 22 Oktober merupakan peringatan hari santri sejak disahkan tahun 2015 oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Dalam sejarah dikatakan, bahwa 22 Oktober 1945 adalah hari saat pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Hasyim Asy’ari mendeklarasikan resolusi jihad di Surabaya. Kondisi negara Indonesia era tersebut berada di masa awal-awal kemerdekaan. Penjajah belum sepenuhnya menerima kemerdekaan Indonesia.

Bagaimana perjuangan santri milenial saat ini? Santri harus tetap mengaji kepada guru yang benar-benar memberi pengajaran yang sejuk dan damai. Dulu para santri berjuang dengan berperang melawan penjajah. Sekarang sudah tidak ada lagi penjajah, maka santri harusnya tetap terus berpikir agar dalam menyelesaikan setiap permasalahan umat. Problematika keumatan setiap hari makin berkembang sesuai dengan kemajuan zamannya. Sehingga sejatinya santri harus betul-betul memahami identitas dirinya sebagai generasi penerus bangsa. 

Kata santri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016) berarti orang yang mendalami agama Islam. Arti lainnya yaitu orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh. Santri itu umumnya berada di sekolah-sekolah agama yang bernama Madrasah atau Pondok Pesantren. Namun dalam perkembangannya saat ini, santri bisa saja orang yang belajar agama di mana saja dengan syarat ada gurunya. Seperti inilah sejatinya santri yang harus selalu hadir bersama para kyainya atau ustadznya.

KH. Irfan Hielmy (2008) mengatakan bahwa santri itu sedianya bisa siap setiap saat dengan perintah gurunya. Mengapa sedemikian taatnya santri pada gurunya? Karena ada ikatan yang kuat antara seorang guru dan murid. Bahkan dalam prakteknya yang terkesan agak “mengkultuskan” guru, santri itu tidak dibenarkan berjalan di depan guru ketika ada gurunya yang sedang berjalan. Guru ibaratnya lokomotif santri yang harus selalu di depan.

Santri sama halnya dengan wujud pelajar yang ada di sekolah umum. Bedanya, santri terus dikontrol untuk berzikir, beribadah, dan mengaji oleh pembinanya di madrasah atau pesantren. Santri yang bersungguh-sungguh (berjihad) dengan belajar tekun, maka akan mendapat hasilnya yang cemerlang seperti ungkapan Arab, man jadda wajada.

Hari santri tahun ini menjadi tambah menarik dengan disahkannya Rancangan Undang-Undang Pesantren menjadi Undang-Undang Pesantren oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dalam Tribunnews.com (26/09/2019) dituliskan, bahwa dengan sahnya UU Pesantren ini maka pemerintah akan lebih serius mengurusi pesantren dibanding sebelumnya terutama di bidang pendidikan karakter.

Revolusi karakter disejajarkan dengan jihad menuju kemajuan sumber daya manusianya. Perjuangan merubah bangsa, tentu harus merubah manusia terlebih dahulu. Di pesantren, ilmu karakter (akhlak) menjadi pondasi awal yang diberikan oleh para kyai untuk para santri. Merubah karakter dari yang belum baik karakternya menuju karakter yang berasaskan nilai-nilai agama. 

Karakter santri idealnya bisa mengamalkan ilmu yang dikajinya dalam praktek sehari-hari. Dengan amal saleh, santri bisa memberi kedamaian bagi semua orang tanpa harus menyalahkan satu sama lain. Santri diharapkan bisa menjadi barisan terdepan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Semoga!

M. Kafrawy Saenong, Pengasuh Ponpes Ash-Shalihin Gowa dan Peneliti di LSKP

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here