Irelevansi: Sebuah Tantangan Organisasi Pemuda di Masa Depan

0
536
Ilustrasi (Ihsan Abdul Aziz)

Yuval Noah Harari dalam sebuah dialog The Future of Education dengan Russel Brand mengatakan bahwa, salah satu tantangan terbesar manusia ke depan adalah irelevansi. Jika di masa lalu persoalan terbesar dalam berbagai aspek adalah eksploitasi, maka di masa yang akan datang adalah manusia yang tidak lagi dibutuhkan.

Perkataan yang belum tentu betul mutlak. Namun, prediksi Yuval tersebut juga tak dapat dinafikan. Sebab pada dasarnya, banyak hal yang memang tidak akan lagi relevan, dan keadaan itu sedang berlangsung saat ini.

Ragam pekerjaan pelan-pelan terotomatisasi: pengurusan administrasi kewargaan di birokrasi kini bisa dilakukan dengan daring. Manusia terdisrupsi oleh teknologi: penjaga gerbang tol berganti dengan sebuah kartu.

Artificial Intelligence dengan segala rupa-rupa algoritma-nya mengakusisi peran manusia secara perlahan: penerjemah dapat dilakukan oleh google translate dan semacamnya, atau di sosial media misalnya, di mana Artificial Intelligence mengetahui manusia lebih dari manusia itu sendiri. Ini bukan sebuah kebetulan. Artificial Intelligence mengonstruksi pilihan-pilihan manusia seolah itu keluar dari dirinya sendiri.

Perdebatan tentang masa depan akan melahirkan dikotomi antara pandangan konservatif-pesimistis: masa depan dianggap bersinonim dengan kehidupan tanpa tata nilai (moral), dan optimisme-futuristis: kebaruan-kebaruan teknologi meniscayakan kehidupan yang lebih baik dan mudah. Dari dua pandangan tersebut, untuk bertahan, baik sebagai individu atau institusi maka ‘irelevansi’ akan menjadi aksioma dasar untuk menakar masa depan.

Masa depan mungkin tak seperti apa yang dibayangkan Yuval, tetapi yang berlaku hari ini adalah sebab-musabab masa lalu, yang berarti masa depan adalah hasil yang sudah mulai diciptakan sekarang. Ibarat bercocok tanam, apa yang dituai esok adalah yang disemai sebelumnya, dan penyemai itu ada di tangan anak muda sebagai penyambung tongkat estafet zaman.

Namun, apakah cara serupa Bung Karno dengan Algemenee Studie Club atau Bung Hatta dengan Perhimpunan Indonesia-nya (memobilisasi massa menggunakan organisasi, dan surat kabar menjadi metedologi penting perjuangannya) masih relevan digunakan pemuda sebagai metodologi menghadapi era disrupsi di masa depan, ataukah yang paling relevan adalah individualitas masing-masing manusia untuk berusaha menentukan nasibnya sendiri berdasarkan pembacaanya terhadap masa depan, tanpa perlu serikat, komunitas pun organisasi (?)

Gerakan Muda Intelektual-Moderat-Progresif

Bangsa Indonesia tak bisa lepas dari sejarah panjang gerakan pemuda. Dimulai dari tahun 1928-1998, dari sumpah pemuda hingga era reformasi. Dari rentan waktu tersebut terbentang secara diakronik, bagaimana pemuda berjuang dengan tidak hanya pikiran tetapi juga tindakan.

Pemuda yang melahirkan perjuangan kolektif atas pengindentifikasian masalah dan musuh yang sama, dan pola seperti itu akan menjadikan gerakan pemuda tetap relevan. Sebab, anak muda perlu berhimpun untuk membentuk mitos bersama—yang dalam bahasanya Yuval disebut sebagai fiksi yang menyatukan manusia.

Mitos bersama itu dibentuk dari organisasi. Organisasi muda yang haruslah berisi para intelektual moderat yang progresif. Intelektual yang tentu, seperti dalam terminologi Antonio Gramsci yang diafirmasi oleh Edward Said, yaitu Intelektual organik.

PW NU SULSEL

Para profesional yang bergerak aktif untuk merepresentasi, mengartikulasi pesan, sikap dan pandangan filosofis untuk membangkitkan daya kritis. Budaya kritis ini harus lahir membuka ruang-ruang diskursif untuk mendialogkan segala bentuk wacana. Jika tidak, maka nasionalisme tribal, fundamentalisme agama, dan fanatisme-fanatisme berbahaya akan lahir di kehidupan warga negara.  

Krtitisisme tentu lahir dari kalangan yang terliterasi dengan baik. Olehnya itu untuk menjadi gerakan pemuda yang tetap relevan maka gerakan literasi harus pula menjadi prioritas utama. Bukan hal yang baru jika Indonesia sangat rendah minat bacanya.

Tak perlu rasanya menggunakan data penelitian terakhir yang cukup banyak dikutip di tiap opini koran pun daring. Silakan lihatlah di lingkungan masing-masing, di unit terkecil komunitas seperti keluarga, apakah budaya literasi telah diterapkan atau tidak. Atau lihatlah bagaimana persoalan besarnya politik identitas yang menandai betapa tidak terliterasinya masyarakat kita.

Selain itu, pemuda perlu menciptakan literasi kewargaan.  Membentuk media sendiri sebagai media non-partisan guna mengedukasi masyarakat sekaligus tetap menjadi pilar kebangsaan—mengawal jalannya demokrasi. Media yang nantinya menyingkap segala yang tabu dan tertutupi (mencerdaskan warga negara bukan menyebar hoaks) seperti media Remotivi, watchdog, asumsi, dll, yang barangkali bisa dijadikan contoh dan rujukan.

Sebab, berharap banyak pada media mainstream sebagai satu dari pilar untuk menjaga demokrasi—setelah apa yang dipaparkan Ross Tapsell dalam bukunya Kuasa Media di Indonesia—bahwa hampir semua media besar berafiliasi dengan para oligarki, menjadikan media mainstream sebagai satu-satunya media otoritatif untuk menyampaikan informasi juga dipertanyakan.

Gerakan pemuda untuk menciptakan tatanan Civil Society yang ideal adalah ruang untuk menjembatani para anggotanya terlebih dahulu untuk tetap relevan, sebelum menjangkau hal yang lebih luas: masyarakat. Pemuda yang harus memiliki daya jual yang tinggi dan kompetitif.

Sayangnya, dari kondisi krisis demokrasi dan tidak adanya kedaulatan politik dan ekonomi pemuda. Muskil kemajuan bangsa dapat tercapai dari tangan mereka. Apalagi bila pemuda tidak masuk golongan menengah yang berpenghasilan memadai. Jangankan memikirkan kesejahteraan orang lain jika dirinya sendiri masih meralat dan berkutat pada persoalan isi perut.

Jangankan menjadikan organisasinya tetap relevan kalau kehidupan organisasi hidup dari cara yang tidak sehat. Muhammad Hatta dalam bukunya Demokrasi, Kedaulatan dan Otonomi mengatakan, bahwa tidak akan ada kedaulatan rakyat jika tak ada kedaulatan politik dan ekonomi. Dan, bagian ekonomi menjadi bagian vital untuk menciptakan rakyat yang berdaulat.

Organisasi 4.0 

Organisasi 4.0 bukanlah seperti pengertian revolusi industri 4.0 pada umumnya, tetapi 4.0 yang bermakna generasi organisasi keempat yang lahir dari setiap sejarah besar bangsa Indonesia. Generasi 1.0 adalah organisasi yang lahir di masa kolonial seperti Boedi Oetomo, Sarikat Dagang, NU dan Muhammadiyah. Organisasi 2.0 yang lahir di era orde lama seperti PMII, HMI, GMNI, GMKI, CGMI, GEMSOS yang kebanyakan berafiliasi dengan partai politik.

3.0 organisasi yang lahir di era orde baru seperti KAHMI, PRD dan lainnya. Di era reformasi sendiri adalah euforia era demokrasi bebas-terbuka yang melahirkan banyak ormas dan partai politik. 4.0 adalah era pasca reformasi yang akan melahirkan gerakan muda yang melek teknologi. Era 4.0 inilah dimana penguasa dunia tidak lagi hanya bertumpu pada kekuatan minyak dan alutsista pun media dan propaganda tetapi juga pada kekuatan Big Data. Data menjadi bagian paling krusial untuk menjadi negara adidaya di masa depan.

Sehingga untuk menyambut bonus demografi bangsa Indonesia di tahun 2045, maka pemuda Indonesia—mau tidak mau—haruslah mempersiapkan mitos bersamanya dalam gerakan muda organisasi 4.0 yang berintelektual, moderat, dan progresif. Gerakan muda yang menciptakan pembacaan secara holistik dan komprehensif terhadap masa depan dengan menggunakan teknologi era 4.0 sebagai mediumnya.

Sebab berbeda zaman, beda tantangan dan berbeda pula metedologinya. Jika medan gerakan pemuda di masa lalu adalah organisasi aksi massa dan menjadikan media massa sebagai senjata maka di masa depan hanya penguasaan teknologi, big data, algoritma dan artificial intelligence yang mampu membuat gerakan organisasi pemuda tetap relevan.

Syafri Arifuddin Masser, Alumnus mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia. Kader PMII Rayon Sastra UMI. Penggiat literasi dan penyiar radio. Dapat dihubungi di Facebook: Syafri Arifuddin Masser, dan Instagram: @syafriamasser

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here