Simbolisme dan Segregasi Keimanan Kaum Urban

0
634
Ilustrasi (Muh. Irham)

Geliat perkembangan simbol-simbol keagamaan di ruang publik makin marak dan mengemuka. Fenomena ini mulai menjamah masyarakat perkotaan sejak tahun 1980-an, hingga saat ini.

Terminologi hijrah dan penggunaan niqab untuk mencirikan diri sebagai perempuan muslim yang ideal, serta dominasi pelabelan syariah untuk hal-hal tertentu, tidak hanya sebatas penanda kesalehan, tapi juga dijadikan tolok ukur keimanan.

Seseorang akan dianggap menjaga atau menjalankan agama dan keyakinannya dengan baik ketika ia mengenakan niqab, bergaul dan berinteraksi hanya kepada mereka yang seagama, seiman dan sepaham.  Makanya itu, kita pun mafhum, jika belakangan marak pemukiman khusus untuk orang-orang yang seagama dan sealiran.

Model keberagamaan seperti ini, dinilai lebih menjanjikan ketimbang hidup bersama dengan mereka yang berbeda. Akibatnya, relasi kebersamaan makin renggang, karena nilai-nilai agama dipersempit, hanya untuk kepentingan kelompok yang sepaham dan seagama.

Keimanan

Orang-orang yang kuat imannya tentu tidak akan takut dengan perbedaan. Justru di tengah perbedaan itu, keimanannya akan menjadi penuntun guna menemukan dan memahami arti keimanan yang sesungguhnya. Pandangan ini lahir dari pemahaman, bahwasanya mendambakan kehidupan sosial yang jauh dari keberagaman adalah sesuatu yang mustahil. Tapi, pada konteks keberagaman itulah, sebenarnya keimanan kita akan teruji.

Mampukah nilai-nilai keimanan kita kukuh di tengah keanekaragaman hidup? Jika tidak, jangan-jangan kita baru sebatas beragama, tapi belum beriman. Demikian pula, jika kita meyakini keimanan adalah fundamen utama kesalehan, tidakkah iman itu bermakna sosial, sebagaimana asal katanya amana, yu’minu, imanan yang berarti aman, damai dan amanah.

Keimanan yang menjadi penopang utama kesalehan tidaklah bertujuan untuk mengurung diri, mempersempit ruang hidup, interaksi social, serta berjibaku dengan hal-hal yang sifatnya teologis semata, melainkan juga pada implementasi dalam kehidupan sosial. Orang yang beriman adalah mereka yang hati dan pikirannya teduh, jauh dari kebencian, dan mampu bersikap adil terhadap sesama.

Pandangan ini berangkat dari realitas kehidupan umat beragama, bahwasanya ada begitu banyak orang-orang yang mengaku beriman, bahkan rutin mengerjakan segala ritual keagamaan, tetapi enggan berbuat adil, berperilaku munafik, korup, serta suka menghakimi orang lain. Oleh karenanya, orang beriman tidak hanya dilihat dari kesalehan ritual semata, tapi juga pada seberapa banyak orang merasa tenang karena ia berada di sampingnya.

Oleh karenanya, iman tidak hanya sekadar percaya atau meyakini adanya Tuhan, sebab jika maknanya demikian, apa bedanya kadar keimanan kita dengan setan. Sementara kita tahu, makhluk ini juga percaya akan adanya Tuhan, tetapi sifat dan perilakunya dikabarkan tidak mencerminkan nilai-nilai keimanan. Singkatnya, yang membedakan keimanan manusia dengan setan adalah sikap dan perilakunya.

Perekat Kebersamaan

PW NU SULSEL

Pada dasarnya, agama punya dua dimensi, yaitu spritualitas (teologis) dan muamaalah (membumi). Keduanya tak bisa dipisahkan, karena kesalehan seseorang, di satu sisi, dilihat pada sejauh mana pesan-pesan teologis itu dibumikan. Pentingnya membedakan iman dan simbol agama agar kita tidak mudah terjebak dengan laku keagamaan yang kaku, serta hampa akan persoalan kemanusiaan.

Ada begitu banyak orang yang mengaku beragama, bahkan kerap mengklaim diri paling beriman, tetapi perilaku dan sikapnya jauh dari apa yang disangkanya itu. Meski sebagian dari mereka rajin menyampaikan pesan-pesan keagamaan lewat jejaring media sosial, tetapi tidak jarang diringi ujaran kebencian. Pada kenyataannya kita hidup bersama, namun pada hakikatnya jauh dari kebersamaan.

Pada akhirnya, kesalehan dan keimanan tidaklah dilihat pada sejauh mana simbol-simbol agama melekat pada diri seseorang, melainkan pada laku sosialnya yang terbuka, termasuk kepada mereka berbeda keyakinan. Baginya, tidak ada larangan berbuat baik kepada mereka yang berbeda agama dan paham, serta tidak serta-merta membuat akidah kita luntur.

Bagi orang yang beriman, keberagamaan yang sesungguhnya tidak ditentukan pada seberapa tertutupnya seseorang kepada orang lain, melainkan seberapa kuat nilai-nilai keimanan tertanam dalam diri kita masing-masing. Dalam konteks sosial, iman menjadi perekat kebersamaan di tengah keanekaragaman, sebagaimana implementasi makna litarafu dalam Al-Quran.

Suaib A. Prawono, Pengurus LTN-NU Sulsel & Presidium GUSDURian Sulawesi

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here