Gerakan Perempuan PMII: Antara Tradisi dan Tantangan Revolusi Industri 4.0

0
1480
Design (Muh. Irham)

Perempuan Indonesia tidak bisa disisihkan dalam sejarah gerakan di Indonesia. Kaum Hawa telah muncul dalam gerakan sosial, politik, pendidikan, dan kebudayaan sejak era kerajaan hingga pasca kemerdekaan Indonesia. Siapa yang tak kenal Ratu Kalinyamat? Ia ikut berperan dalam pasang surut politik di Kerajaan Pajang. Demikian halnya dengan RA Kartini, perempuan yang bergerak membela kaumnya, sekaligus menggelorakan semangat Pendidikan bagi perempuan.

Gerakan perempuan tentu tidak lahir dari ruang hampa. Ia muncul dalam pergulatannya dengan konteks zaman dan sejarahnya. Dalam tiap-tiap konteks itulah, gerakan perempuan menemukan lokus gerakan, menyemai momentum, dan membangun strategi di tengah kuatnya dominasi laki-laki serta belenggu budaya patriarki.

Dengan cara yang seperti itulah Korps PMII Putri (KOPRI), sebuah organisasi perempuan otonom muncul. Organisasi yang merupakan bagian dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini, muncul untuk mendorong kiprah perempuan dalam tubuh PMII. KOPRI PMII menjadi organisasi tempat para kader perempuan PMII menemukan lokus perjuangan dan area untuk membangun strategi gerakan. Tentu saja kehadirannya tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan nafas
Manhaj Al Fikr yang serupa dengan lembaga dan badan otonom perempuan NU lainnya, seperti Muslimat, Fatayat dan IPPNU.

KOPRI PMII Berdiri pada tahun 1967 dan kini telah melampaui usia emasnya, yakni 52 tahun. Dalam usia yang sudah dewasa tersebut, KOPRI dengan segala dinamika dan warna gerakan perempuan yang mengiringinya, sudah harus melihat kembali posisi dan garis perjuangannya sebagai kawah candradimuka perempuan NU di tingkatan mahasiswa. Apalagi kini, zaman tengah menyongsong dan bahkan sudah berada dalam revolusi industri 4.0. Para aktivis KOPRI-lah, salah satu bagian kaum milenial yang akan banyak mewarnai era tersebut.

Sebagai bagian integral dari PMII, maka pusat gerakan KOPRI tidak akan bergeser dari wacana pembebasan, keadilan, dan humanisme. Sebagai gerakan perempuan, tentu saja diskursus tersebut akan bergerak pada perjuangan pembebasan atas ketidakadilan dan ketidaksetaraan martabat kemanusiaan karena pola relasi yang timpang antara laki-laki dan perempuan.

Dengan demikian, isu-isu yang masih menjadi agenda perjuangannya antara lain; isu kekerasan pada perempuan dan anak, perdagangan manusia, dan ketidakadilan akses ekonomi pada perempuan. Sebagai organisasi kaderisasi dengan sasaran generasi milenial ditingkat mahasiswa, fase ini tentu akan menjadi bagian dari penyadaran struktur kognitif, pengisian kerangka pikir, dan penataan muatan epistimologi bagi perempuan PMII.

Sebagai organisasi Islam, argumentasi yang berbasis pada teks-teks keagamaan mengenai pola relasi antara laki-laki dan perempuan tentunya harus tetap dipertimbangkan. Melalui dan dalam teks-teks keagamaan, ruang negosiasi dan interaksi yang seimbang atas laki dan perempuan dibangun. Tentu dengan terlebih dahulu meletakkan teks-teks agama secara netral dari bias misoginistis. Dari
sana, gerakan perempuan yang berbasis teks keagamaan ini bisa membangun kerangka teologis kesetaraan hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Dalam bukunya Qiraah Mubadalah, Faqihuddin menawarkan Konsep Mubadalah untuk
menafsirkan teks-teks agama, hukum, dan realitas sosial. Perspektif ini dikembangkan oleh Faqihuddin untuk memosisikan perempuan dan laki-laki sebagai subjek yang sama dan setara di hadapan teks agama. Konsep Faqihuddin ini tidak persis sama dengan konsep teori feminisme modern, sebab yang ditawarkan bukanlah kesetaraan dalam arti mempersamakan laki-laki dan perempuan, tetapi titik tekannya pada Konsep Kesalehan Berkeadilan.

Konsep mubadalah ini, misalnya mengajarkan kita untuk memandang orang lain dan diri sendiri sebagai manusia yang sama sama terhormat, sesuai dengan hadis “Laa Yu’minu ahadukum hatta yuhibbu li akhihi ma yuhibba linafsihi” . Konsep ini tidak jauh berbeda dari manhaj Al Fikr Aswaja Annahdiyah yang menjadi metode kader KOPRI PMII dalam berpikir. Karena itu tidak ada salahnya mengadaptasi teori ini, sebagai penyeimbang teori feminisme global yang telah jauh hari sudah digunakan oleh aktivis KOPRI PMII.

Kader-kader KOPRI PMII selama ini tentu telah akrab dengan teori feminism liberal, feminism radikal, feminism marxisme, sampai femenisme post-kolonial. Tetapi, sekali lagi, sebagai aktivis nahdliyyin, semua itu tidak lengkap tanpa dibarengi perspektif yang berakar pada tradisi sendiri, yakni yang berasal dari teks-teks keagamaan klasik, maupun teks-teks yang berasal dari Nusantara.

Menyangkut teks-teks yang berasal dari tradisi Nusantara, KOPRI PMII tentu tidak akan kehabisan bahan. Bahkan jika tekun menelusuri naskah-naskah Nusantara yang menghormati perempuan, KOPRI akan menemukan banyak sekali sumber pengetahuan. Di Indonesia, beragam teks kuno yang membahas mengenai pengalaman perempuan Nusantara. Tokoh perempuan tersebut bisa dipandang sebagai tokoh-tokoh penggerak feminisme di Nusantara.

Perempuan nusantara tersebut tertulis dalam serat, babad, prasasti, sureq, lontarak, dan teks-teks kuno. Mereka adalah tokoh-tokoh perempuan yang memiliki lompatan gerakan melampaui zamannya. Sebutlah misalnya; Retno Kencana Colliq Pujie di Sulawesi Selatan, Datu Balanipa di Tanah Mandar, Raja Tribuana Tunggadewi dari Kerajaan Majapahit, Ratu Kalinyamat dari Jepara, Nyi Ratu Mas Gandasari dari Aceh, Ratu Sima, Ken dedes, Ratu Kilisuci serta perempuan perempuan Nusantara yang lain yang hadir dan lekat dalam ingatan kolektif masyarakat Nusantara. Feminism is Here!
Feminisme itu sudah ada di(dari) sini, bukan di sana!.

Pada tahun 2012, Penulis ikut dalam satu Tim kecil dalam riset bersama Risa Permanadeli, Direktur Pusat Kajian Representasi Sosial Indonesia (PKRS). Tim ini menelusuri beberapa tempat dan mengkaji representasi sosial makna I Lagaligo bagi masyarakat Sulawesi Selatan. I Lagaligo adalah sebuah epos terpanjang di dunia yang lahir dari tanah Sulawesi Selatan. Penelitian representasi sosial ini mengambil telaah budaya dan sejarah sebagai akar epistemologinya dan melakukan penjangkaran makna dan bahasa pada beberapa kerangka sosial masyarakat salah satunya pada Perempuan.

Dalam perjalanan penelitian, ditemukan banyak kepingan makna, mengenai tingginya posisi dan peran perempuan Bugis-Makassar. Mereka mengada tanpa resitensi yang menyolok terhadap keberadaan lelaki. Kaum perempuan itu bergerak dalam ruang budaya yang sudah ada, sambil mengukuhkan eksistensinya sebagai perempuan. Mereka tidak harus membongkar kebudayaannya agar bisa eksis.

Risa Permanadeli yang menulis buku Representasi Sosial Perempuan Jawa di Era Modern (2015) dengan mengembangkan teori representasi sosialnya Serge Moscovici, telah mendorong lahirnya pengetahuan baru tentang perempuan yang bersumber dari lokalitas. Diskursus perempuan Indonesia harus keluar dari posisinya yang hanya sebagai annexe dari sebuah ruang besar bernama peradaban modern. Begitu kira-kira semangat dari gagasan Risa Permanadeli ini. Jalan untuk terhindar dari annexe peradaban modern itu adalah membuka pintu pada kekayaan sejarah dan kebudayaan yang berasal dari tanah sendiri.

Di sinilah pentingnya adaptasi lokalitas dalam gerakan PMII Putri ini. Dengan cara
mengadaptasi lokalitas, KOPRI PMII memiliki tumpuan pada tradisi ketika berselancar dalam lautan teori feminisme.

Gerakan perempuan KOPRI PMII yang berbasi pada tradisi, baik tradisi keagamaan maupun tradisi lokal Nusantara inilah nantinya yang menjadi modal dalam mengarungi era Revolusi Industri 4.0. Seperti telah dijelaskan oleh berbagai pakar, era 4.0 ini diwarnai oleh kecerdasan buatan (artifisial intelegence), era super komputer, rekayasa genetik, inovasi dan perubahan cepat yang berdampak pada
ekonomi, industri, pemerintahan dan politik.

Dalam era yang demikian, kecerdasan dan keterampilan bukanlah jaminan satu-satunya untuk ikut berkompetisi. Jika tidak memiliki karakter yang khas, kata salah seorang budayawan Makassar, Razak Thaha, anda akan terlempar dalam putaran roda 4.0 ini. Karakter yang khas itu salah satunya adalah kemampuan kita mengolah yang lokalitas menjadi bagian dari globalisme atau universalisme. Itulah yang kita sebut dengan glokalisasi.

Namun tanpa penguasaan yang baik terhadap teknologi informatika, tentu juga kekhasan karakter itu tidak akan bisa diamplifikasi. Dengan demikian kaderisasi di tubuh PMII KOPRI perlu mempertimbangkan penguasaan pada industri dan teknologi informasi. Membanjirnya informasi melalui kanal media sosial seperti youtube, instagram, Facebook dan lain-lain harus mampu dimanfaatkan oleh kader perempuan PMII untuk melakukan personal branding baik pada tingkatan wacana, praksis gerakan maupun persiapan menghadapi Bonus Demografi serta menyambut pencapaian target planet 50-50 pada keterwakilan perempuan di semua sektor pada tahun 2030.

Tak mudah mengafirmasi diri sebagai bagian dari generasi Industri 4.0 sekaligus sebagai kader dari Organisasi gerakan yang berpijak pada Aswaja dan kearifan lokal. Tetapi jika aktivis PMII KOPRI mampu memadukan itu, maka KOPRI PMII akan muncul dengan identitas yang berbeda dari organisasi perempuan lainnya.

Pada akhirnya, Panjang umur pergerakan!, Selamat Harlah KOPRI yang ke -52 tetaplah menjadi kader perempuan yang memiliki kesadaran kritis, memiliki identitas, dan citra diri sebagai kader yang berkarakter kuat.

Herwanita, Sekjen KOPRI PB PMII Periode 2011-2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here