Maulid Nabi, Islam, dan Kearifan Lokal dalam satu Tarikan Nafas

0
750
Design gambar oleh Muh. Irham

Selain Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa, tak ada yang mampu menyaingi kesempurnaan Rasulullah Muhammad SAW, Nabi pembawa risalah dan rahmat bagi seluruh alam.

Media Geo Times menulis dalam sebuah rilis, bahwa Muhammad SAW hanya sekali terlahir, dan beliau abadi sepanjang masa, sepanjang waktu, hingga akhir zaman. 

Nabi Muhammad SAW namanya terus dikenang, disanjung, dikagumi, bahkan karena  kemuliaaannya, Allah SWT sendiri yang bershalawat kepada beliau dan memerintahkan seluruh makhluk ciptaan-Nya untuk bershalawat kepada kekasih-Nya tersebut.

Perintah hhalawat kepada putera tersayang dan semata wayang, Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib dan Sayyidatina Aminah Az-Zuhriyah binti Wahab diabadikan dalam Alquran Surah Al-Ahzab ayat 56.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 

Innallāha wa malā`ikatahụ yuṣallụna ‘alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanụ ṣallụ ‘alaihi wa sallimụ taslīmā

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Perintah untuk bershalawat itulah kemudian yang diekspresikan secara beragam oleh seluruh umat Islam di penjuru dunia, dengan corak dan khas lokalitas masing-masing. Tak terkecuali, pada saat perayaan maulid disejumlah tempat di wilayah Polewali Mandar, dengan sejumput ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW yang beragam dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya.

Pada suatu kesempatan, Imam masjid agung Syuhada Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat,  Assayyid Ahmad Fadl Bin Djafar Thaha Al-Mahdaly, di beberapa titik perayaan maulid di Kabupaten Polewali Mandar pada bulan Rabiul awal tahun ini, senantiasa mengingatkan masyarakat di bumi Tipalayo agar kiranya, dalam menjalani kehidupan sehari-hari, untuk selalu mendekatkan hati kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Sayyid Ahmad Fadl menyampaikan, bahwa  kecintaan kepada Nabi Agung Muhammad SAW,  bisa kita jumpai pada sejumput ekspresi perayaan maulid dan kehidupan sehari-hari masyarakat di tanah Mandar.

Beliau, Sayyid Ahmad Fadl, menjelaskan bahwa sejak masyarakat  di Mandar melangsungkan pernikahan, mengandung janin,  akikah kelahiran, syukuran (selamatan), siklus kehidupannya tak pernah berpisah dengan Rasulullah Muhammad SAW.

PW NU SULSEL

Hal tersebut tak lain, karena disetiap momentum tersebut, selalu ada pembacaan kitab Al-Barzanji, syair dan puji-pujian, untuk memuji keagungan Rasulullah Muhammad SAW.

Sayyid Ahmad Fadl juga menceritakan, tentang kisah seorang Ulama dari Hadramaut Yaman, As-Syekh Habib Sayyid Alwi Jamalullail bin Sahl, dzurriyat Nabi (keturunan Rasulullah SAW), guru dari KH. Muhammad Thahir (Imam Lapeo) sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di tanah Mandar.

Kala itu, sang habib terkesima akan kedekatan hati orang-orang Mandar di perkampungan Tomadio (sekarang Kecamatan Campalagian) terhadap Rasulullah Muhammad SAW.

Keterkesimaan beliau dikisahkan Sayyed Ahmad Fadl, tatkala Habib Alwi menjumpai seorang anak kecil yang hampir terjatuh dari tangga rumah (rata-rata rumah orang Mandar berbentuk rumah panggung), kemudian secara spontan, orang tua si anak dan warga sekitar berteriak menyebut nama Muhammad, dengan bahasa khas orang Mandar, “Muhamma’e, Muhamma’e, Muhamma’ Puang, andang bando sera kabe’ ”  yang berarti “Ya Muhammad, Ya Muhammad, Ya Muhammad Ya Allah, apakah kamu baik-baik saja anakku sayang”.

Spontanitas warga itulah kemudian yang membuat ulama kharismatik tersebut berdecak kagum, membuatnya takjub bersimpuh ke tanah dan menangis, beliau terkesima dengan orang-orang Mandar yang  hatinya begitu dekat dengan Rasulullah SAW.

Dalam pandangan As-Syekh Habib Sayyid Alwi Jamalullail Bin Sahl waktu itu, saat kaget saja, orang-orang tersebut tak langsung menyebut nama Allah SWT, melainkan menyebut nama Muhammad, kekasih Allah SWT yang begitu dicintai-Nya. Secara simbolik, spontanitas itu menunjukkan bahwa untuk berdekatan dan bermesraan dengan ALLAH SWT, terlebih dahulu kita harus mencintai dan bermesraan dengan kekasih-Nya, yaitu Rasulullah Al-Mustofa Muhammad SAW.

Pun, sejak saat itulah, beliau memilih menetap, berkeluarga, mengajar dan berjanji akan menghabiskan masa hidupnya di Tanah Mandar. Makam beliau dan jejak-jejak perjuangannya bisa kita jumpai di Desa Bonde Kecamatan Campalagian. Peringatan Haul kewafatan beliau, diperingati setiap tahun di Masjid besar Bonde Campalagian, dan dihadiri ribuan jamaah yang ingin berburu berkah.

Kemudian, dihari yang sama, Sayyid Ahmad Fadl Al-Mahdaly dalam hikmah maulid yang beliau sampaikan di dua masjid berbeda, minggu (10/11)  yakni di masjid Dusun Katumbangan Desa Barumbung Kecamatan Matakali, dan masjid Nurul Amin Dusun Silopo Desa Mirring Kecamatan Binuang.

Di kedua masjid tersebut, beliau menceritakan tentang cara masyarakat nelayan Pambusuang, tempat kelahirannya, mengekspresikan ketakziman terhadap Rasulullah SAW. Para nelayan di Pambusuang meyakini, apabila persoalan hidup diserahkan sepenuhnya kepada Rasulullah SAW, maka kelancaran rezeki dimudahkan dan keselamatan hidup akan senantiasa terjaga.

“Bapak dan ibu sekalian, di kampung kelahiran saya di Pambusuang, para nelayan tatkala ingin melaut, ada ritual yang dilakukan agar perahu yang dikendarai melaut, mencari nafkah dijaga keselamatan dan dimudahkan untuk mengaiz rezeki di laut lepas, apa itu, para nelayan meyakini bahwa di bagian depan perahu dijaga oleh Nabi Sulaiman AS (baca Alaihissalam), Nabi yang dalam Alquran memiliki kekayaan harta melimpah, kemudian di bagian tengah dijaga oleh Nabi Ibrahim AS sebagai Nabi yang pertama kali membuat rumah, dibagian belakang (kemudi) dijaga oleh Nabi Nuh AS sebagai Nabi yang pertama kali membuat perahu, dan pada bagian tiang layar menghadap ke angkasa, dijaga oleh Rasulullah SAW, karena hanya Rasulullah saja yang bisa tembus ke langit (Arsy) berjumpa dengan Allah SWT, makanya ketika dalam perjalanan melaut ombak kencang atau badai menghantam perahu, para nelayan akan langsung memeluk erat tiang layar, yang diyakini bahwa nelayan tersebut sedang memeluk Rasulullah SAW, ” urai Sayyid Ahmad Fadl Al-Mahdaly.

Pada kesempatan lain, di peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di masjid agung Syuhada yang dilangsungkan tepat malam 12 rabiul awal tempo hari, Sayyid Ahmad Fadl juga menjelaskan tentang cara para Annangguru di tanah Mandar mengabarkan keagungan dan kemuliaan Rasulullah SAW.

Ulama yang karib disapa Sayyed Fadl ini menjelaskan hakikat ketupat Nabi yang acapkali kita jumpai pada perayaan maulid. Ketupat yang dibuat khusus untuk Rasulullah SAW  yang ditusukkan ke batang pisang yang berdiri di tengah masjid, bersama telur dan makanan lainnya.

Menurut Sayyed Fadl yang menceritakan kembali penjelasan abahnya, almarhum Habib Sayyid Djafar Thaha Al Mahdaly, bahwa ketupat Nabi adalah simbol kepemimpinan Rasulullah SAW yang jauh dari sifat rakus. Ketupat Nabi berukuran kecil menyampaikan makna bahwa Rasulullah SAW sebagai pemimpin senantiasa mementingkan kemaslahatan ummat ketimbang kepentingan pribadi dan keluarganya.

“Mua’ diang pobare’ bareang (jika ada pembagian sesuatu), Nabi SAW akan selalu mendapat bagian paling sedikit, bahkan tidak mengambil pobare-pobareang tersebut sebelum  semua ummatnya dapat bagian, nanti pie ada sisa, baru itu yang diambil beliau, makanya ketupat nabi ukurannya tak sama dengan ketupat yang lazim, ketupat yang berukuran besar, kata orang Mandar atupe’ dadza manu’ (ketupat dada ayam) yang berarti ketupat yang diperuntukkan untuk umat, jika ada pembagian, umatnya dapat lebih banyak, itulah keistimewaan Nabi kita,” ucap Sayyed Fadl.

Dari narasi di atas, begitulah kurang lebih sekelumit ekspresi perayaan maulid Nabi di tanah Mandar, dengan sejumput khazanah nilai-nilai ke-Islaman yang menyatu dengan kearifan lokal masyarakat. Perjumpaan yang tidak antagonis. Agama dan budaya menyatu dalam satu tarikan nafas.

Perayaan Maulid Nabi yang khas dan sarat makna turun temurun diajarkan oleh para penyebar Islam pertama di tanah Mandar dan senantiasa dijaga oleh para Annangguru dikampung-kampung. Islam yang pertama kali diperkenalkan ke masyarakat dengan Islam yang bermaulid. Islam yang selalu memuji, mengagungkan dan mensyukuri kelahiran Rasulullah SAW.  Islam Rahmatan Lil alamin, yang menebar rahmat bagi seluruh alam. Shollu alannaby.

Muhammad Arif, Wakil Ketua GP Ansor Polman

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here