Penghuni Bukit Pountu

0
533
Design gambar (oleh Muh. Irham)

Catatan Perjalanan Kemanusiaan Banser untuk Korban Gempa Pasigala Bag. II

Bersama Darmawan, Kasatkorcab Banser Kabupaten Sigi, kami meninggalkan Posko Relawan Ansor/Banser di Jalan Lasoso Palu. Tujuan kami mengarah ke sekitar perbukitan Pountu mengunjungi pengungsi korban gempa dan liquifaksi yang berasal dari Desa Sidera dan Jono Oge.

Perbukitan Pountu membentang di sepanjang Kecamatan Biromaru Kabupaten Sigi. Perbukitan itu sunyi, tandus, dan penuh bebatuan. Bila musim kering menghebat, air baru bisa didapat dari sumbernya di bawah perbukitan. Untuk memperoleh air lumayan lama, setengah jam lebih waktu yang dibutuhkan. Wilayah perbukitan yang kami kunjungi itu dihuni lima keluarga.

Satu diantara lima penghuni adalah keluaga Ahmad. Ia hidup bersama istri dan empat anak, ditambah seorang mertua. Gubuknya sangat sederhana. Dindingnya sebagian terdiri dari papan yang mulai melapuk dan bolong di beberapa tempat. Bagian dinding lainnya terbuat dari bilik bambu yang keropos. Sementara atapnya dipasangi seng yang kebanyakan sudah berwarna kecoklatan. Berkarat dimakan usia.

Memasuki gubuk Ahmad, terlihat jelas kalau keluarga ini kurang memperhatikan kesehatan. Alat-alat untuk memasak, seperti cangkir atau piring yang habis dipergunakan, dibiarkan begitu saja tergeletak dan belum dibersihkan karena kekurangan air. Tapi kemungkinan lain, keluarga tak terbiasa dengan tata cara kesehatan. Akibatnya, cangkir terlihat kotor kekuning-kuningan di sana sini berselimut debu.

Keluarga Ahmad juga acuh dengan persoalan gizi makanan. Yang penting perut keluarga bisa diganjal. Tidak selamanya mereka makan nasi atau jagung. Terkadang keluarga itu mengkonsumsi gaplek atau tiwul, sejenis makanan yang terbuat dari singkong yang dikeringkan terus ditumbuk. Warnanya kecoklatan dan rasanya manis khas singkong. Saya kurang tahu namanya dalam Bahasa Kaili. Pokoknya, bagi Ahmad, keluarganya bisa bertahan hidup saja merupakan berkah yang teramat besar.

Mungkin karena pengganjal perut yang tak menentu itulah yang menyebabkan kelurga ini kekurangan gizi. Perut Tini, anak sulung Ahmad jadi buncit. Sedang adiknya Dewi, kurang suka makan jadi kurus badannya. Sementara si bungsu Anto, belakangan ini sering batuk-batuk, tanpa obat.

“Nanti sembuh sendiri”, kata Ahmad.

Anak-anak itu bertelanjang dada. Bukan karena mereka malas berpakaian, tapi lebih karena mereka kurang memilikinya.

Mereka juga tidak bersekolah. Padahal kalau mau, mereka bisa bersekolah di Sidera. Tetapi karena jauh dan tak adanya kendaraan yang dimiliki, membuat Ahmad membiarkan anak-anaknya tak menuntut ilmu, seperti umumnya anak-anak di kaki bukit.

Sehari-hari, anak-anak itu cuma bermain dengan teman sebaya, dari empat keluarga yang menjadi tetangganya di lingkungan itu. Kehidupan keempat tetangga itu sama susahnya dengan kehidupan keluarga Ahmad. Terkadang anak-anak kecil itu ikut bapak-ibunya mencari sayur di kebun.

PW NU SULSEL

Pekerjaan Ahmad memang tak menentu. Kebanyakan waktunya habis di kebun. Ia menanam sayur-sayuran di kebunnya. Namun bila musim kemarau, Ahmad mencoba menjadi buruh tani. Tidak jelas hasilnya. Malah lebih sering tidak mendapat pekerjaan. Lalu nganggur saja di rumah.

Semenjak gempa menimpa Kabupaten Sigi, penduduk yang bermukim di sekitar Desa Sidera dan Jono Oge banyak berdatangan. Umumnya mereka adalah pengungsi korban liquifaksi. Rumah-rumah mereka rusak atau hilang di telan bumi.

Para pengungsi itu membuat tenda-tenda di sekitar rumahnya. Suasana sunyi lingkungan itu berubah meriah. Teman bermain Anto, Dewi, dan Tini juga bertambah. Mereka senang dengan semua itu. Namun berbeda dengan Ahmad dan tiga kepala keluarga yang lain. Beban hidup mereka semakin bertambah.

Saat Tim Relawan Ansor Pasangkayu menyambangi kediamannya sekaligus menemui pengungsi untuk menyalurkan bantuan logistik dari Ikhwan Jamaah Tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah (TQN) Bogor dan Ponpes Al-Hikmah Baras Kabupaten Pasangkayu, Ahmad sangat besyukur dia berharap bantuan lain segera berdatangan. Karena bantuan itu sangat membantu meringankan kesulitan mereka.

Abdul Hakim Madda, Ketua GP Ansor Pasangkayu

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here