Sayyed Jalaluddin dan Maudhu Lompoa

0
675
Foto (oleh Tribun Timur)

PWNUSUSLSEL.or.id – Keberadaan Sayyed Jalaluddin bagi komunitas Cikoang di Kabupaten Takalar- – Sulawesi Selatan memang sangat berarti. Sebab Sayyid Jalaluddin inilah yang mengembangkan ajaran Islam di daerah ini dengan cara yang khas. Dia tidak seperti cara tiga datuk sebelumnya, khususnya Datuk Ri Bandang dalam mengajarkan islam. Ia mengajarkan Islam dengan proses dialog dengan kultur masyarakat setempat.

Seperti kita ketahui, secara resmi Islam diterima kerajaan Gowa 9 November 1607. Saat itu, Datuk Patimang, Datuk Ri Bandang, dan Datuk Ri Tiro datang ke daerah ini untuk menyebarkan Islam. Khusus di daerah Gowa dan sekitarnya, termasuk Makassar, Takalar dan Jeneponto, yang mengembangkan Islam di daerah ini adalah Datuk Ri Bandang. Pendekatan yang digunakannya lebih bersifat Syariah atau Fiqihyah. Ia berusaha untuk menghilangkan secara tegas praktek-praktek masyarakat yang dianggap bertentangan dengan Syariah, khususnya sabung ayam dan minum-minuman keras (ballo) yang menjadi tradisi saat itu.

Namun yang mengherangkan, pengaruh Datuk Ri Bandang ini tidak menyentuh komunitas Cikoang, Di daerah ini ada dua tokoh terkenal yang menentang cara-cara pengislaman yang sedang berlangsung saat itu. Namanya I Bunrang dan I Danda. Keduanya juga adalah tookoh yang sakti yang disegani.

Bagi kedua tokoh lokal ini, tradisi yang mereka jalankan di daerah Cikoang, tidak boleh terganggu oleh kedatangan ajaran yang baru itu. Apalagi keduanya mendengar, tokoh Datuk ri Bandang sangat tegas dengan berbagai tradisi. Pada masa ini proses islamisasi mendapat tantangan di daerah ini.

Dalam kondisi demikian, datanglah Sayyid Jalaluddin ke kerajaan Gowa. Tapi, keberadaanya tidak diperlakukan sebagaimana tiga datuk sebelumnya. Beberapa keluarga kerajaan malah terkesan tidak senang padanya. Padahal Sayyid Jalaluddin adalah suami Acara Dg Tamami, salah seorang putri raja Gowa, Sultan Abd Kadir Alauddin yang ada di Banjar. Di samping itu, ia juga merasa Datuk Ri bandang dengan proses Islamisasinya lebih banyak bermazhab Syafii, dia sendiri oleh sebagian kalangan malah dianggap Syiah. Karena ketidak cocokan itulah ia memilih meninggalkan daerah Gowa menuju ke daerah Cikoang.

Di Cikoang, Sayyed Jalaluddin pertama kali disambut oleh I Bunrang dan I Danda. Pada awalnya, mereka berdua berdialog dengan Sayyid Jalaluddin, tidak dijelaskan secara terperinci apa dialog mereka, tapi kemungkinan seputar hakikat. Karena melihat ajaran Islam yang dibawa oleh Sayyedd Jalaluddin tidak berupaya menghilangkan tradisi mereka, maka menurut Haji Mahmuddin Dg Sikki, I Danda dan I Bunrang memanggil Sayyid Jalaluddin ini meyebarkan islam di daerahnya, dan merekalah yang pertama menjadi muridnya.

Di Cikoang, Sayyid Jalaluddin kemudian mengajarkan Al-Qur’an dan hadis, Tarekat Bahrun Nur – Ma’rifatullah, dan Fiqih. Beliau berpedoman pada tujuh kitab yang dibawanya yaitu Fiqih Siratal Musataqim, Akhbarul Akhir, Tajwid, Farail Qawani Nasarail, Ushuluddin, Sauf Saufim, dan Aqidatul Awwam. Ia juga memperkenalkan Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi konsepnya berbeda dengan yang lazim karena disebut dengan Kaddo Minyak  (disesuaikan dengan nama makanan yang disajikan dan disesuaikan dengan tradisi setempat).

Sayyid Jalaluddin kemudian memperingati ajarannya ini secara besar-besaran pada tanggal 12 Rabiul Awal 1025 H, bertepatan dengan tanggal 11 November 1625. Hadir dalam kesempatan tersebut para tokoh sembilan kerajaan besar, yaitu Sumbawa, Gowa, Bone, Luwuk, Sanrobone, Buton, Galesong, Binamu, dan Laikang. Dan nama yang digunakan untuk perayaan saat itu masih ka’do minyak. Baru lima belas tahun kemudian, tepatnya tanggal 12 Rabbiul Awal 1040 H (1640 M) pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad di Cikoang dinamakan Maudhu Lompoa.

Maudhu Lompoa memang berbeda dari Maulid yang lazim dilaksanakan, selain karena dirayakan secara besar-besaran di Cikoang, juga karena kelengkapan acara ini berbeda dari yang umum. Kalau yang lazim di Sulawesi Selatam hanya dilengkapi dengan telur, maka perayaan Maudhu Lompoa ri Cikoang, disertai dengan julung-julung (sejenis perahu nyang diibaratkan tumpangan Syekh Jalaluddin pada zaman dulu) . Ada juga Kandawari (tempat telur, nasi ketan dan ayam disimpan).

Selain itu, prosesnya sudah dimulai dari bulan safar, yaitu dengan je’ne-je’ne sapparang (mandi bulan safar) sambil mempersipakan berbagai kelengkapan acara. Sebelum sampai pada puncak acara, pelaksanaan maulid diadakan secara bergiliran dari rumah ke rumah para Sayyid. Dalam pelaksanaan acara itu dilakukan pembacaan barazanji yang disebut dengan anrate yaitu membaca barazanji dengan lagu dan irama lokal.

Beberapa bacaan juga tidak disesuaikan dengan tajwid atau tata bahasa Arab, tapi lebih disesuaikan dengan lagu yang bernuansa lokal. Oleh Tua Kai, sesepuh di komunitas Cikoang, inilah salah satu bukti lagi bagaimana Sayyid Jalaluddin pada masanya berhasil memadukan antara ajaran Islam dengan tradisi setempat. Penyampaian tentang islam ini dilanjutkan oleh anaknya yang kedua yaitu Sahabuddin al-Aidid.

PW NU SULSEL

Syamsurijal Ad’han, Ketua LTN-NU Sulawesi Selatan

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here