Membela Negara dengan Spirit Agama: Perjuangan Abdullah Dg Sirua di Kampung Tidung

0
429
Gerbang memasuki Kampung Tidung

“Kenapa dinamakan kampung pejuang, karena di sini basis perjuangannya Abdullah Dg. Sirua, bersama Wolter Monginsidi dan Emmy Saelan, waktu perang melawan Belanda,” ujar H. Yahya Dg. Nai kepada saya.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 direspon oleh penjajah Belanda dengan mendaratkan kembali pasukan di berbagai wilayah di Indonesia, tak terkecuali di Sulawesi Selatam. Pendaratan pertama kali dilakukan oleh Tentara Belanda bersama sekutu di Makassar pada tanggal 23 September 1945.

Demi mempertahankan kemerdekaan, masyarakat Sulawesi Selatan membentuk basis-basis perjuangan di beberapa daerah. Mereka memutuskan tetap setia kepada pemerintah Republik Indonesia. Belanda yang mencoba merebut kembali tanah yang pernah mereka jajah, mendapat perlawanan sengit dari rakyat Makassar.

Pusat atau markas komando para pejuang Makasar saat itu, berada di Kampung Tidung Mariolo. Wilayah Kampung Tidung yang dulunya dikelilingi hutan sering dipakai oleh para laskar untuk melancarkan strategi perang gerilya. Emmy Saelan pun memakai jalur ini untuk melangsungkan perang gerilya melawan tentara Belanda. Jalur itu kini berubah menjadi Jalan Emmy Saelan. Sekarang, kita bisa menuju Kampung Tidung lewat jalan ini. Wilayah Kampung Tidung kini masuk ke dalam Kecamatan Rappocini, Kota Makassar.

Di Kampung Tidung, rumah Abdullah Dg. Sirua menjadi pusat komando perjuangan. Dari rumah tersebut, obat-obatan dan bahan makan disuplai kepada para pejuang. Di tempat ini pula, terdapat sebuah sumur keramat. Sumur tersebut dipakai untuk memandikan para pejuang sebelum berangkat ke medan perang.

“Depan rumah ini ada sumur, pusatnya pejuang. Saya tidak timbun, cuma saya tutup saja. Kalau kakek itu (Yusuf Dg. Ngawing, ayah Abdullah Dg. Sirua) memandikan para pejuang sebelum berangkat. Saat kembali dari perang, tidak ada yang terluka,” papar H. Yahya Dg. Nai.

Perjuangan Abdullah Dg Sirua bersama Wolter Monginsidi, Emmy Saelan, serta para laskar lainnya, mendapat perhatian khusus dari Belanda. Mereka pun menjadi target buruan utama.

“Waktu melawan Belanda, nama Abdullah Dg Sirua dan beberapa teman seperjuangannya tercatat dalam buku daftar musuh Belanda,” ujarnya.

Basis perjuangan yang dipusatkan di Kampung Tidung Mariolo tidak hanya menjangkau area Kota Makassar saja. Tetapi, jaringan perjuangannya sampai ke wilayah Takalar, Maros, Barru, dan Malino Kabupaten Gowa. Ahyar Anwar dan Aslan Abidin, Tokoh-Tokoh di Balik Nama-nama Jalan Kota Makassar (2008)

Membela Negara dengan Spirit Agama

Menggeloranya perlawanan rakyat Makassar dalam mempertahankan kemerdekaan, tak bisa dilepaskan dari sosok Abdullah Dg. Sirua. Selain sebagai pejuang, ia juga seorang ulama. Abdullah Dg. Sirua, semasa kecil mengecap pendidikan di Muallimin Muhammadiyah Jongaya. Ia juga tercatat sebagai siswa di MULO, sekolah milik Belanda, yang diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan pribumi keturunan bangsawan.

PW NU SULSEL

Di Kampung Tidung Mariolo, Abdullah Dg. Sirua, mengajar mengaji dan ilmu agama di bawah kolong rumahnya.

“Beliau dulu sering mengadakan perngajian kitab kuning. Sebelum rumah panggung di sebelah dibongkar, masih tersimpan kitab yang ia ajarkan. Abdullah Dg. Sirua juga mengajar agama tanpa pamrih di kolong-kolong rumah, karena dulu belum ada mesjid,” Katanya.

H. Yahya Dg. Nai yang merupakan Keponakan Abdullah Dg. Sirua ini, juga menuturkan bahwa spirit agama turut menyulut perjuangan Abdullah Dg. Sirua dan para pejuang lainnya dalam menghadapi tentara Belanda.

“Perjuangan beliau dibarengi dengan semangat keagamaan yang luar biasa. Beliau memberikan khotbah yang mampu menggugah perjuangan. Beliau memadukan antara membela negara dengan semangat agama islam”, tambahnya.

Selama masa perjuangan, Abdullah mengalami tiga kali penangkapan. Ia pernah ditangkap dan disiksa bersama ayahnya, Yusuf Dg. Ngawing oleh tentara KNIL. Ibu jari tangan Abdullah dan ayahnya diikat dan diseret bersama dengan mobil. Penyiksaan itu berlanjut dalam bentuk dipasung, dipukul, dan digantung oleh tentara KNIL.

Bahkan, saat itu tersiar kabar, bahwa Abdullah Dg. Sirua telah meninggal dunia. Masyarakat yang mendengar kabar ini, melakukan perlawanan besar-besar kepada antek-antek KNIL. Ahyar Anwar dan Aslan Abidin, Tokoh-Tokoh di Balik Nama-nama Jalan Kota Makassar (2008)

Penulis: Andi Ilham Badawi

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here