Rindu Masa Lalu (Catatan Perjalanan Kemanusiaan Banser Untuk Korban Gempa Pasigala Bag. I)

0
377
Design gambar oleh Muh. Irham

Ditimpa musibah terkadang membuat orang sering merindukan masa lalu yang dahulu justru tak disukai dan ingin ditinggalkannya. Dusun Winongo, tiba-tiba menjadi kenangan yang teramat indah bagi seorang lelaki bernama Santo yang tergolek lemah di Rumah Sakit Undata. Ia sering membayangkan hijaunya persawahan dan udara segar yang melingkupinya. Berbeda dengan udara rumah sakit yang panas dan gerah.

Santo kangen segera pulang ke kampung halamannya. Ia ingin menemui dan meminta maaf pada Inah, istrinya. Inah, ia tinggalkan tanpa pamit. Ia rindu bertemu anaknya Eko dan Dewi, lebih-lebih Atun yang ia tinggalkan saat masih menetek pada ibunya.

Lima hari dirawat di Undata terasa panjang. Waktu yang berlalu tak hanya melelahkan namun hampir meruntuhkan semangat hidupnya. Dari dokter ia menerima kabar bahwa kaki kirinya harus diamputasi. Sebuah kenyataan pahit yang hingga detik ini belum sanggup ia terima.

Menunggu saat-saat operasi itu berjalan terus tanpa harapan. Terlebih di Kota Palu, ia sendiri. Seandainya saja memiliki teman yang bisa menolong mengabarkan keadaannya itu pada keluarga di tanah Jawa, tentunya nasibnya akan jauh berbeda.

Namun seandainya pun ada yang menolong untuk memberi kabar ke kampung, ia ragu dalam hati. Apakah keluarganya mau menerima kehadirannya kembali? Bukankah kehadirannya nanti akan menjadi beban baru bagi istri dan anak-anaknya? Sudah tak ada uang, cacat pula. Tapi ia berusaha menguatkan diri.

Sebenarnya baru dua hari Santo berada di Palu saat gempa terjadi. Ceritanya hari itu ia ingin mengunjungi seorang kenalannya. Kenalan itu ia temukan di atas kapal laut yang membawa mereka dari Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar menuju Pantoloan.

Kenalannya itu seorang Bugis. Lelaki itu berjanji akan membantu Santo mencarikan pekerjaan. Kebetulan ia seorang mandor bangunan di Kota Palu dan menetap di Perumnas Balaroa. Perumnas itu terletak di Kota Palu sebelah barat.       

Dengan modal keberanian berbekal nomor handphone, ia tinggalkan Pelabuhan Pantoloan menuju Perumas Balaroa selepas Salat Jum’at. Namun apa yang ditemui di Balaroa sungguh di luar kuasanya. Ketika sore itu gempa menghajar Palu dan Peristiwa liquifaksi yang mengikutinya sungguh menjadi peristiwa teramat kelam dalam hidupnya.

Ia terkenang. Ketika gempa terjadi ia berusaha menyelamatkan diri. Ia berlari kencang sekuat tenaga begitu melihat tanah di sekitar Perumnas Balaroa bergetar. Ia bahkan menyaksikan beberapa bangunan bergeser dan berpindah tempat meninggalkan posisi awalnya.

Malang bagi Santo, sebuah bangunan yang berada di dekatnya tiba-tiba runtuh dan menimpa kakinya. Kejadiannya sangat cepat, sehingga ia tak sempat menghindar. Sakitnya luar biasa, sampai kakinya tak bisa digerakkan. Ia cuma mampu mengaduh dan meminta tolong.

Beruntung ada beberapa orang tiba-tiba lewat dan mengangkat tubuhnya. Setelah itu ia tak lagi ingat apa yang terjadi. Ia baru sadar dan menyaksikan tubuhnya terbaring di atas bangsal dalam Rumah Sakit Undata Palu.

PW NU SULSEL

“Tolong mas, saya dicarikan relawan dari Jawa. Siapa tahu nanti bisa bantu mengabarkan keadaan saya pada keluarga. Handphone saya hilang. Saya tidak tahu siapa yang harus dihubungi”, katanya memelas. Saya menganggukkan kepala dan menyalaminya kemudian berlalu.

Hari itu kami berusaha memastikan korban dari Pasangkayu yang dirawat di Undata. Di saat mengecek korban itulah kami menemukan Santo yang tergolek lemah sendiri.

Mendung tebal bergayut di langit Undata menemani langkah kami meninggalkan rumah sakit itu. Semuanya terdiam terlena dalam sunyi.

Bersambung…

Abdul Hakim Madda, Ketua GP Ansor Pasangkayu

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here