Sumpah Pemuda dan Persatuan Indonesia

0
464
Ilustrasi oleh Muh. Irham

Sumpah pemuda setiap 28 Oktober diperingati sebagai momen yang sangat bersejarah. Sedikit kilas balik, pada 28 Oktober 1928, kaum pemuda bersepakat untuk menyatukan visi dalam membangun bangsa ini sebagai bangsa yang bersatu. Prinsip mereka ialah bahwa di atas persatuan bangsa, kaum pemuda akan menggerakkan roda perjuangan kebangsaan menuju Indonesia merdeka. Maka tidak heran jika mereka mendeklarasikan tekad dan pengakuannya.

“Satu bangsa, Bangsa Indonesia

Satu tanah air, tanah air Indonesia

Berbahasa satu, bahasa Indonesia”

Sebagai aktivis mahasiswa pergerakan, semangat 1928 patut diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk selamanya. Karena dalam makna sumpah pemuda itulah terkandung visi generasi bangsa, terutama yang menyangkut persoalan kebangsaan dan tujuan hidup bernegara. Cita-cita yang suci dalam membangun nasionalisme, serta merawat kesatuan bangsa tanpa membedakan suku, bahasa, budaya, dan agama. Inilah negara kebangsaan oleh sumpah pemuda.

Lalu, apakah para pemuda hari ini terutama mahasiswa tetap komitmen pada ideologi nasionalisme? Apalagi di kalangan generasi muda muslim Indonesia yang telah menyatakan visi cemerlang nan luar biasa tentang model dan ideologi negara yang sudah dipandang sesuai dengan nilai-nilai subtansial keislaman yakni ideologi Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia (NKRI).

Masih komitmenkah kita seperti generasi angkatan sumpah pemuda 1928, ataukah sebaliknya? Pertanyaan ini harus tegas kita jawab bahwa tidak ada jalan lain yang terbaik untuk bangsa dan negara ke depan kecuali meneruskan Ideologi kebangsaan itu sendiri.

Pemuda Islam harus menunjukkan dan menjadi pelopor bagi umat Islam yang rahmatan Lil alamin dalam pencerdasan bangsa dan negara. Harusnya kita mampu melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa dengan mencontoh kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. Ketika di Yastrib sebuah negara modern awal yang mengayomi pluralitas Muslim, Yahudi, Kristen dan kepercayaan lainnya. Yang kemudian kita kenal dengan nama Madinah Al Munawwarah (Negara peradaban yang tercerahkan), juga sekaligus manifestasi Islam Rahmatan Lil Alamin yang sesungguhnya. Maka sepantasnya pemuda Islam belajar dari sejarahnya sendiri bahwa dalam sebuah peradaban, jika dikemas dalam eksklusivisme apalagi kebencian dan konflik atas nama agama, tidak akan pernah mungkin mencapai taraf negara yang madani.

Saling mencurigai satu sama lain antar anak bangsa, menabur kebencian, saling mengkafirkan sesama muslim dan anak bangsa, serta membuat konflik dengan isu SARA, bahkan dendam antar sesama manusia merupakan awal dari perpecahan dan kemunduran suatu bangsa. Mudah-mudahan hal itu tidak akan pernah terjadi. Olehnya, melalui momentum sumpah pemuda 28 Oktober 2019 ini, mari kita jadikan sebagai basis patriotisme dan nasionalisme di kalangan generasi pemuda anak-anak bangsa, tetap komitmen dan mengawal cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Selamat hari sumpah pemuda 28 Oktober 1928-2019

Hidup Mahasiswa hidup pemuda Indonesia!

PW NU SULSEL

Abram El Tarja, aktivis PMII Barru

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here