Pemuda dan Literasi Digital

0
440
Ilustrasi oleh Muh. Irham

Perkembangan teknologi di bidang informasi dan komunikasi semakin meningkat pesat. Hal ini ditandai dengan kemunculan “media baru”, berikut beragam platform yang tersedia di dalamnya. Hadirnya smartphone, tablet, dan PC, membuat sebagian orang mulai menanggalkan televisi di dinding ruang keluarga dan menghentikan layanan berlangganan surat kabar.

Sosial media merupakan salah satu produk dari media baru tersebut. Kehadiran sosial media merubah pola interaksi dan komunikasi manusia zaman sekarang. Kita bisa saling menyapa dari kejauhan. Kita bisa saling bertukar pesan dalam waktu singkat. Kita mampu mengakses informasi dari belahan dunia manapun. Kita dapat membeli barang apapun, tanpa harus mengantri di kasir supermarket.

Kecepatan, kemudahan, dan keterbukaan adalah ciri khas media sosial. Media sosial menjadi ruang publik baru yang dapat diakses oleh semua orang. Sebagai ruang publik yang baru, media sosial menjadi saluran memperoleh dan membagikan informasi. Informasi tidak lagi milik otoritas media atau pemerintah, namun bisa pula berasal dari bawah, dari masyarakat.

Namun, seperti dalam dongeng Dunia Janus, di mana dunia memiliki sisi baik dan sisi buruk, maka media sosial menampakkan sisi buruknya belakangan ini. Disrupsi atau banjir informasi kian memenuhi sosial media. Informasi berseliweran di mana-mana, tanpa kontrol, tanpa kejelasan, dan tanpa verifikasi. Dari sekian banyak jenis informasi, hoaks adalah salah satu yang menggenang tinggi di jagad media sosial. Bahkan, hoaks tersebut seringkali memuat ujaran kebencian, untuk saling menjatuhkan antar individu atau kelompok.

Hoax beredar melalui beberapa platform di media sosial. Laporan dailysocial.id menunjukkan ada tiga aplikasi yang paling banyak dipakai untuk menyebarkan hoax di Indonesia, diantaranya Facebook 81,25 %, Whatsapp 56,55 %, dan Instagram 29,48 %. Menoleh ke data yang lain, Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel) menunjukkan bahwa saluran penyebaran hoaks paling banyak lewat media sosial dengan presentase 92,4 %. Sementara pada aplikasi chatting lebih rendah 62,8 %. Pengguna media sosial bahkan sangat rentan menerima hoaks setiap hari dengan presentase sebesar 44,3 %.

Angka-angka dari riset tersebut menunjukkan bahwa masyarakat – terutama warganet – belum memiliki kecakapan literasi digital yang baik dalam menyaring berita atau informasi sebelum menyebarkan kembali ke platform media sosial. Rentannya warganet terpapar hoaks dan terpengaruh oleh hate speech salah satunya disebabkan oleh rendahnya tingkat literasi digital.

Menurut Kirsch & Jungeblut dalam buku Literacy: Profile of America’s Young Adult mendefinisikan literasi sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Keterampilan literasi ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terutama kalangan pemuda. Memiliki tingkat literasi yang baik akan menunjang pemuda dalam memahami informasi, baik lisan dan tulisan.

Literasi digital mengandaikan kemampuan individu atau kelompok dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial. Penyaringan itu dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari mencari informasi pembanding, melakukan fact-check, dan atau bertanya pada seseorang yang memiliki kredibilitas terkait informasi tersebut. Literasi digital merupakan seperangkat kecakapan yang berguna dalam proses mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan pesan dalam beragam bentuk.

Berkaitan dengan hal tersebut, kalangan pemuda atau milenial memiliki potensi besar untuk menguasai keterampilan literasi digital. Menurut riset Pee Research Center, generasi milenial mempunyai keunikan yakni tidak bisa dilepaskan dari teknologi, terutama internet. Milenial memberikan perhatian pada gawai seperti laptop, ponsel pintar, tablet, dan televisi setiap 27 kali dalam sejam. Angka ini meningkat 17 kali dari generasi sebelumnya.

Sebagian besar waktu yang dimiliki oleh pemuda milenial dihabiskan di hadapan layar gawai. Sehingga, dengan memiliki kemampuan literasi digital, milenial tidak hanya mampu menyaring informasi dengan baik. Mereka juga mempunyai kreatifitas sebagai produsen informasi, dengan menyebarkan informasi tersebut dalam berbagai bentuk audio, visual, maupun audio-visual.

Literasi digital dapat mengembangkan kemampuan emosi generasi milenial. Hoaks dan ujaran kebencian mudah tersebar karena salah satunya dengan menyerang langsung sisi emosional seseorang. Milenial yang mampu mengelola emosi dengan baik, tentu tidak akan mudah terpapar oleh berita-berita yang belum tentu benar dan memuat pesan kebencian. Milenial akan memiliki kematangan moral dalam memaknai setiap pesan dalam sebuah informasi.

PW NU SULSEL

Generasi milenial juga diandaikan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan pengetahuan yang baru, daya inovatif, dan sisi kreatif. Perkembangan teknologi yang tak pernah berhenti akan membuat generasi milenial turut berkembang. Dengan modal keterampilan literasi digital, generasi milenial akan selalu punya ide-ide segar untuk menghadapi sisi buruk dari media sosial.

Olehnya, di era sibernetik ini, penguasaan literasi digital sangat penting bagi kalangan muda atau generasi milenial. Melalui digital literasi, diharapkan pemuda milenial tidak hanya kritis dalam memaknai setiap informasi yang mereka akses, tetapi juga kemauan untuk tidak hanya bersandar pada satu sumber informasi dengan satu perspektif.

Paling penting, literasi digital ditunjang oleh minat belajar yang tinggi. Pemuda milenial mula-mula harus berangkat dari literasi konvensional, dengan banyak membaca referensi dan mulai mengembangkan kemampuan membaca dan menulis sebagai fondasi di tengah era disrupsi informasi.

Andi Ilham Badawi, Staf Divisi Riset & Kampanye Kreatif LAPAR Sulsel. Dapat dijumpai di akun twitter @bedeweib

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here