Nasionalisme Sarungan

0
655
Ilustrasi oleh: Muh. Irham

Nasionalisme adalah api. Dialah yang membakar semangat perlawanan terhadap kolonialisme. Lihatlah betapa bersemangatnya Minke dalam Bumi Manusianya Pramoedya Ananta Toer. Ia melakukan perlawanan melalui tulisan atas penaklukan kolonialisme saat itu kepada pribumi. Mungkin ada cinta sebagai penyedapnya, tapi  api yang membakar semangat perlawanannya itu, adalah api nasionalisme. Demikian halnya Soekarno ketika berdiri Pada 18 Agustus 1930 di hadapan sidang Landraad (Pengadilan) Bandung, nasionalisme-lah yang membuatnya berapi-api menggugat;

“Kami punya hari dulu yang indah, kami punya masa depan yang gemilang. Tuan Hakim, siapakah orang Indonesia yang tidak mengeluh hatinya, kalau mendengar cerita tentang keindahan itu, siapakah yang tak menyesalkan hilangnya kebesaran-kebesaran. Siapakah orang Indonesia yang tidak hidup semangat nasionalismenya, kalau mendengarkan riwayat kebesaran Melayu, Sriwijaya, Majapahit, Padjajaran hingga Mataram”

Namun api nasionalisme yang menggelorakan semangat para pemuda pada masa kolonial, tidaklah akan sehebat itu  andai ‘Kaum Sarungan’ – para Kiai dan santri dari pesantren – tidak meramunya dalam bahasa agama. ‘Kaum Sarungan’ itulah yang membuat api nasionalisme tetap bisa membara. Melalui fatwa-fatwa agama, nasionalisme digelorakan.

Simaklah Resolusi Jihad itu,  ia bagaikan mantra. Di hadapannya, para pemuda dan kaum santri seakan tersulut  patriotismenya melawan Pasukan Sekutu di Surabaya. Sebagaimana bara api Drupadi yang memicu semangat Pandawa melawan Kurawa, maka demikianlah Resolusi Jihad membakar semangat para santri dan pemuda-pemuda Surabaya. Mereka turun ke medan laga, yang oleh Bung Tomo digambarkan dalam pidatonya; “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun.”

Tidak hanya itu, pada suatu saat KH Hasyim Asyari, Rais Akbar NU dengan terang menyatakan;“Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan.” Di lain kesempatan, KH Wahab Hasbullah yang juga pendiri NU menandaskan; “Nasionalisme Yang Ditambah Bismillah Itulah Islam. Orang Islam Yang Melaksanakan Agamanya Secara Benar Akan Menjadi Nasionalis…”.

Dalam perjalanan bangsa ini, ketika negara menghadapi berbagai rongrongan, Kaum Sarungan tetap berdiri menjaga api nasionalisme.  Saat sementara kalangan umat Islam ingin mendirikan Negara Islam Indonesia, Kaum Sarungan yang tak lain para Kiai dan Santri itu kembali membentengi republik ini. Begitu pun ketika Pancasila dipersoalkan sebagai dasar negara, sekali lagi Kaum Sarungan ini memberikan spirit terhadap nasionalisme bangsa Indonesia . Dalam Munas Alim Ulama di Situbondo 1983  lahir satu keputusan yang disebut dengan Deklarasi Tentang Hubungan Pancasila dan Islam.  Deklarasi itu menunjukkan bahwa Kaum Sarungan menerima Pancasila tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga asas dalam berorganisasi. Tetapi yang lebih penting dari itu, Kaum Sarungan saat itu menunjukkan secara tegas bahwa Pancasila memang bukan agama, tetapi antara Islam dan Pancasila sama sekali tidak saling memunggungi. Keduanya bertalian rapat.

Di tengah banyaknya kelompok yang menyerang nasionalisme sebagai thagut dan bertentangan dengan Islam, Kaum Sarungan inilah yang tegak menjaga nasionalisme tetap berjiwa. Seringkali karena pembelaannya terhadap nasionalisme ini, Kaum Sarungan diejek lebih mencintai Tanah Air dibanding Agama. Katanya jika menjelang ajal Kaum Sarungan tidak menyebut syahadatain, tetapi nyebutnya; “NKRI Harga Mati”. Penyataan itu menghina, tentu saja. Tetapi Kaum Sarungan tidak pernah surut dalam mengobarkan semangat nasionalisme. Bahkan untuk itu,  Kiai Said Ridwan, salah seorang Kiai dari Pesantren Lirboyo Kediri menulis satu kitab bertajuk “Al-Difa Anil Wathan Min Ahammil Wajibati ala kulli Wahidin Minna” (Membela Tanah Air; Sebagian dari Kewajiban Setiap Individu) 

Hingga hari ini, Kaum Sarunganlah yang menjaga apa yang disebut dengan Hot Nasionalism, yang menurut Hutchinson (2006) satu bentuk nasionalisme yang bertujuan menanamkan ide tentang bangsa sebagai sesuatu yang sakral dan transenden, yang penting dijaga,  hingga  jika perlu warga berkorban untuk itu. 

Di tengah nasionalisme kita yang semakin banal, meminjam istilah Billic, fatwa-fatwa keagamaan Kaum Sarungan yang terkait dengan nasionalisme ini sangat kita butuhkan. Jika tidak karena spirit agama yang ditanamkan terhadap nasionalisme, kita hanya akan mengenali nasionalisme tersebut sebagai sesuatu yang sangat lumrah dan seremonial;  hanya  upacara rutin, pengibaran bendera di halaman atau menyanyikan lagu Indonesia Raya. Di tangan para Kaum Sarungan ini, Nasionalisme terasa tetap menjadi sesuatu yang sakral dan transenden. Karena itu tidak salah kalau kita menyebut inilah “Nasionalisme Sarungan”.

Penulis: Syamsurijal Ad’han (Ketua LTN-NU Sulsel)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here